Pelajaran Dari Perjalanan

Dalam setiap perjalanan ada pelajaran, bukan bagaimana cara mencapai tujuan, tapi bagaimana cara menikmati perjalanan itu sendiri. (drg. FAISOL BASORO)

Mengenal satu-persatu staff puskesmas. Inilah salah satu kegiatan sampingan saya selama 8 bulan menjadi kepala Puskesmas Barabai. Hampir setiap hari.

Saat ini, saya mulai hafal nama-nama staff puskesmas. Wajah-wajahnya. Sifat-sifatnya. Kebiasaanya. Dari mana asalnya. Sudah berapa lama kerja. Hingga keadaan keluarganya.

Ada pelajaran penting yang saya peroleh selama menjadi kepala puskesmas di Barabai. Menyatukan banyak kepala itu ternyata gampang-gampang susah. Tapi lebih banyak susahnya. Lebih sulit dari yang saya bayangkan. Konflik. Keinginan yang berbeda. Personal interest. Capaian program. Sinkronisasi dari atasan dengan keadaan puskesmas sebenarnya. Dan banyak lagi. Bahkan, latar belakang keluarga beberapa staff menyulitkan saya dalam mengambil keputusan. Belum lagi kedekatan saya dengan beberapa staff. Menjadi founder dari beberapa startup, rasanya, tidak sesulit itu.

Dokter Sri, saya juga baru tahu kalau beliau salah satu dokter yang cukup lama menjadi kepala puskesmas, beliau disamping pinter juga punya prinsip. Orangnya straight. Tapi bisa memposisikan diri sebagai staff saya dengan baik. Padahal beliau adalah senior bagi saya. Banyak hal kebijakan puskesmas yang saya diskusikan dengan beliau sebelum saya lempar ke publik.

Dokter Sri ternyata juga cerdas. Kesenioran beliau bukan hambatan untuk mengeluarkan ide-ide kreatif. Bukannya sok tahu tentang banyak hal di puskesmas, tapi malah membuat terobosan-terobosan yang selalu didiskusikan dulu dengan saya. Alih-alih menganggap itu adalah idenya, sayalah yang memyampaikan di setiap lokmin, seakan-akan adalah ide saya pribadi. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Salah satunya mengaktifkan kembali Sahabat Lansia dan keterlibatan beliau dikegiatan akreditasi puskesmas.

Pak Hasmi juga orang yang cerdas. Konsisten. Sebagai ketua tim akreditasi, tentunya banyak waktu yang tersita. Tapi bukan berarti meninggalkan tugas-tugas utama di puskesmas. Program luar gedung juga tak pernah tak dikerjakan. Entah itu penyuluhan disekolah-sekolah sampai ke desa-desa. Tugas dadakan yang sering saya berikan dikerjakannya dengan sempurna. Salah satunya sosialisi HIV/AIDS saat taraweh.

Puncaknya adalah ide beliau dalam mencari jalan keluar permasalahan akreditasi. Itu beliau sampaikan saat-saat terakhir saya sebagai kepala puskesmas Barabai. Memang ide yang brilian. Semoga kepala puskesmas yang baru berkenan dengan keputusan saya disaat terakhir itu.

Pak M. Noor nyaman diajak diskusi banyak hal. Itu penilaian saya saat ini. Sebelumnya saya sangat berhati-hati menyampaikan permasalahan puskesmas. Background beliau sepertinya menjadi barier. Sekarang saya kagum sama beliau. Orangnya luwes. Tidak kaku. Berpikiran terbuka. Asik diajak diskusi topik apapun. Apalagi kalau topiknya tentang keislaman. Saya banyak belajar.

Satu hal lagi tentang Pak M. Noor. Beliau adalah partner kerja yang luar biasa. Tanpa beliau, tentu banyak pekerjaan saya yang terbengkalai. Kecepatan dan ketepatan kerja patut diacungi jempol. Tak Ada pekerjaan yang tak pernah selesai. Padahal saya hanya menggambarkan situasinya dan apa keinginan saya. Itupun saya sampaikan secara verbal. Dengan akurat beliau mampu menterjemahkannya menjadi kerja-kerja nyata. Pada akhirnya sangat beralasan kalau beliau sering berseloroh “Pian maunya pengen cepat”.

Saya juga ingat, bersama Pak Ujang, Pak M. Noor sering mengajari saya kiat-kiat menjabat di Pemerintahan. Tentang ilmu menahan diri. Tentang bagaimana berlaku sebagai bawahan. Sampai hal-hal kecil selalu jadi bahan diskusi bertiga dikala senggang.

Pun tidak lupa staff-staff lainnya. Baik yang PNS maupun yang TKS. Mereka berperan membentuk karakter saya selama menjadi kepala puskesmas Barabai. Terima kasih yang tak terhingga.

Pelajaran lain yang saya dapat adalah, kebersamaan dan profesionalitas di puskesmas Barabai menjadikannya sebuah tim yang kuat. Disitu ada tawa. Ada duka. Ada gembira. Ada selisih paham. Ada air mata. Tapi semuanya bisa diselesaikan. Tidak menghambat perkerjaan utama, yaitu MELAYANI SEPENUH HATI. Mereka bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri. Dengan cara mereka sendiri. Saya sekedar memberikan alternatif-alternatif.

Puskesmas Barabai memang luar biasa. Hingga pernah terucap dalam benak saya. Puskesmas ini secara “software” sudah lengkap. Budaya kerja sudah terbentuk. Etos kerja sudah mendarah daging. Kedisiplinan sudah menjadi gaya hidup. Apalagi yang bisa saya sumbangkan untuk puskesmas ini? Sampai saat ini pertanyaan itu belum bisa saya jawab.

Tapi pada akhirnya, puskesmas jugalah yang akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya diatas. Apakah proses akreditasi akan berakhir ‘bahagia’? Apakah yang saya kerjakan selama ini akan menjadi budaya?

Hari ini (Senin, 21 Agustus 2017) adalah hari pertama saya di RSHD, yang berarti berakhir juga tugas-tugas saya di Puskesmas Barabai. Sekiranya selama ini ada yang kurang berkenan, sudilah memaafkan. Insya Allah saya masih akan sering hadir di Puskesmas Barabai. Mohon buka pintu lebar-lebar. Sukses selalu buat teman-teman di PUSKESMAS BARABAI.

Basoro
RSHD, 21 Agustus 2017

Iklan

Berubah Atau Tidak

…. Saya masih harus belajar banyak memahami kultur yang sedang berjalan di Puskesmas Barabai….

Itulah yang saya sampaikan pada perbincangan sore hari dengan Beliau-nya.

Dan itu juga yang menyebabkan saya terus-menerus mendatangi masing-masing poli dan bagian-bagian di puskesmas. Ingat ya.. saya tidak memanggil para koordinator dan pemegang program. Tapi saya yang mendatangi kemasing-masing ruangan.

Sudah ada beberapa yang saya datangi. Ada yang seharian saya duduk sambil tanya ini-itu. Atau sekedar sebentar sambil “say hello”. Saya memang ingin benar-benar memahami kultur masing-masing bagian di Puskesmas Barabai. Saya juga ingin tahu apa keinginan mereka, apa harapan mereka dan apa mimpi mereka tentang puskesmas kedepan. Ya sekaligus mengenal masing-masing staff saya secara personal.

Saya juga memastikan, dengan datang langsung ke ruangan-ruangan, saya jadi tahu apa yang terjadi di bagian itu. Kebersihan ruangannya, kamar mandinya, penataan meja kursi, sampai poster-poster didinding tidak luput dari pengamatan saya. Sekedar menerka-nerka kultur aslinya.

Lalu menyimpulkan. Jelekkah atau baikkah kulturnya. Perlukan ada penyeragaman. Atau dibiarkan saja? Bagaimana dengan penyelesaian tugas-tugas? Ada kendala apa tidak? Perlukan dibuat aturan-aturan baru? Ataukah bertahan dengan kesepakatan-kesepakatan lama?

Ide-ide baru sangat diperlukan. Inovasi-inovasi adalah keniscayaan. Syaratnya adalah mudah dilaksanakan dan langsung terasa manfaatnya. Ingat, saya memimpin puskesmas Barabai dipenghujung anggaran. Dan posisi keuangan puskesmas yang masih abu-abu. Sedikitkah sisanya, atau malah defisit?.

Lalu, tentang menganti personal-personal, saya sangat berhati-hati. Disamping saya tidak memahami program-program tahun 2016, juga berkaitan dengan pertanggung jawaban BOK dan JKN serta kegiatan-kegiatan tahun berjalan. Ditambah lagi proses akreditasi puskesmas yang saya hidupkan lagi setelah mati suri. Sangat tidak adil bagi staff saya kali harus dipusingkan dengan pengantian-pengantian personal. Entah pemegang program atau bendahara-bendahara. Biarlah jalan dulu. Toh satu bulan lagi sudah berganti anggaran.

*Bagaimana pendapat anda?*

Barabai, 20:30 30112016

Halo Barabai

Inilah kota yang akhirnya saya memutuskan menetap setelah resmi menikah, Barabai. Atau yang lebih dikenal sebagai kota Apam. Dibandingkan kota-kota di daerah Jawa, Barabai tergolong kota kecil.

Dari catatan Wikipedia, kota dengan slogan Murakata (Mufakat, Rakat, dan Seiya-sekata), berpenduduk 243.460 jiwa. Saat ini dipimpin oleh Bupati H. Abdul Latif, ST, SH, MH. Lebih lengkapnya silahkan baca wikipedia.org.

Menulis tentang Barabai, saya jadi teringat tahun 2012. Saat itu seorang kawan bertanya. “Ngapain kamu ke Barabai, mau ke pedalaman?”. Itulah pertanyaan yang sulit saya jawab.

Memang sudah sering saya ke beberapa daerah di Indonesia. Khusus Kalimantan, bisa dibilang sangat sering. Rata-rata punya kekhas-an sendiri. Tapi Barabai..!!!

Kota ini memang kecil. Tidak ada aktifitas pertambangan. PAD nya juga tidak seberapa.

Maka, saya putuskan untuk menjawabnya dengan seloroh.

“Untuk sebuah pembuktian. Apakah benar, galuh banjar paling cakep ada di Barabai.”

Lalu hampir 5 tahun berlalu. Saat ini galuh banjar itu telah menjelma 2 lagi. Dan semuanya bungas.

Inilah yang namanya Barabai. Kota Apam. Dengan maskot burung Anggang. Parisj Van Borneo. Maka tidak perlu lagi pembuktian. Memang galuh banjar “pembungasnya” ada di Barabai. Halo Barabai….

Hambawang, 20160425.

Penanganan Sakit Gigi Pada Ibu Hamil

“Dok, obat apa ya yang boleh untuk sakit gigi pada ibu hamil?” Begitu kira-kira obrolan sebagian besar dokter gigi ditempat prakteknya. Satu pertanyaan yang sederhana. Namun harus dijawab dengan tuntas. Alih-alih memberikan saran penanganan yang tepat, malah seringkali pasien dibuat bingung oleh jawaban sang dokter. Hingga timbul pertanyaan. “Dokter kok bingung sih dok?” Penanganan sakit gigi pada ibu hamil memang unik. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Semua berkenaan dengan keluhan-keluhan yang menyertainya. Diantaranya keluhan gusi berdarah, sariawan sampai pada nyeri di gigi. Dan biasanya perubahan hormonal menjadi biangnya. Padahal perlu juga di lihat bahwa kelaianan pada rongga mulut saat kehamilan juga disebabakan oleh kebersihan mulut yang buruk, perasaan mual dan muntah, sering ngemil atau makan makanan manis juga timbulnya rasa malas untuk menggosok gigi.

Pada beberapa kasus ringan, seperti rasa nyeri di gigi (sakit gigi) perlu dilakukannya penanagan yang cepat. Dan biasanya ibu hamil akan membeli obat-obat dipasaran. Pada beberapa kasus mungkin akan mengakibatkan permasalahan lanjutan pada kehamilan itu sendiri. Jadi sebaiknya untuk menghindari keluhan gigi dan mulut selama hamil, sebagai tindakan pencegahan, kunjungi dokter gigi Anda jika Anda merencanakan kehamilan. Jangan lupa selalu menginformasikan pada dokter gigi Anda jika Anda hamil. Berikut tips menjaga kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil.

  1. Gunakan sikat dan lembut dengan ukuran yang sesuai
  2. Pada ibu hamil yang sering muntah dan mengeluarkan air liur, jangan lupa untuk rajin berkumur. Bisa dengan air hangat yang dibubuhi garam. Kumur dengan air hangat juga bermanfaat untuk membersihkan sisa lemak pada rongga mulut dan sela gigi.
  3. Pilih pasta gigi yang tidak merangsang alergi, terutama untuk gigi yang sensitif. Dan yang terpenting adalah memilih pasta gigi yang akan membuat kondisi mulut segar dan nyaman.
  4. Lakukan penyikatan gigi secara benar dan gerakan sikat melingkar dengan hati-hati disela-sela gigi. Sikat gigi atas kearah bawah, sikat gigi bawah kearah atas. Minimal menggosok gigi 2x sehari.
  5. Bila ada gangguan kesehatan pada mulut yang perlu menggunakan obat kumur, sebaiknya dibaca label pada kemasan tentang keterangan kontra indikasi untuk ibu hamil. Penggunaan obat kumur perlu berkonsultasi dengan dokter gigi.
  6. Bila mempunyai gigi palsu, lakukan perawatan gigi palsu secara teratur.
  7. Gunakan Dental Floss (benang gusi) untuk membersihkan sisa makanan yang menyelip diantara geligi.
  8. Kurangi konsumsi makanan yang manis dan asam karena berpotensi merusak gigi.
  9. Penuhi kebutuhan kalsium sesuai anjuran dokter, karena kalsium yang dikonsumsi juga diserap oleh calon bayi terutama di trimester pertama pada tahap perkembangan gigi janin.
  10. Konsumsi buah yang berserat, yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin B12 karena baik untuk gusi.
  11. Apabila sudah terlanjur mengalami masalah gigi selama kehamilan, maka dokter gigi perlu mengambil tindakan untuk menanganinya.

Dan yang perlu diingat selama masa kehamilan adalah:
– Kehamilan dapat menyebabkan masalah gigi tertentu pada beberapa perempuan.
– Diperkirakan bahwa sekitar 18 dari setiap 100 kelahiran prematur mungkin dipicu oleh penyakit periodontal, yang merupakan infeksi kronis pada gusi.
– Anda cenderung memiliki masalah gigi selama kehamilan jika anda memiliki kebiasaan membersihkan mulut yang buruk.

Oleh : drg. F. Basoro dari berbagai sumber Sumber foto : google.com

Kosmetika dan Estetika Kedokteran Gigi

Dokter Gigi kosmetik dan estetik belakang hari semakin populer. Dan banyak dokter gigi menyebut diri mereka sebagai “dokter gigi kosmetik” terlepas dari pendidikan mereka yang spesifik, khusus, pelatihan, dan pengalaman di bidang ini. Namun keadaan ini telah dianggap tidak etis dengan tujuan utama dari pemasaran untuk pasien. Padahal dari sisi etika dokter sudah jelas untuk tidak melakukan pemasaran dan promosi berkenaan dengan prakteknya.

Kosmetik kedokteran gigi umumnya digunakan untuk mengacu pada setiap perawatan gigi yang meningkatkan penampilan (meskipun belum tentu fungsi) gigi seseorang, gusi dan / atau gigitan. Jika mengacu ke Asosiasi Dokter Gigi Amerika (PDGI-nya Dokter Gigi Amerika), mereka tidak mengakui kedokteran gigi kosmetik sebagai daerah khusus formal kedokteran gigi. Namun, masih ada dokter gigi yang mempromosikan diri sebagai dokter gigi kosmetik.

Yang terpenting adalah jaga senyum anda dan penampilan gigi anda. Karena senyum adalah salah satu aset yang paling penting! Senyum dan Gigi Anda adalah jendela di mana Anda diukur. Mengetahui Anda memiliki senyum yang lebar, deretan gigi yang rapi dan putih dapat memberikan dorongan ekstra kepercayaan untuk membawa Anda di manapun anda berada.

Memutuskan untuk memiliki kedokteran gigi kosmetik merupakan pilihan penting dan sangat pribadi. Ketika saat itu datang dan Anda sedang mencari dokter gigi kosmetik terbaik di jangan segan untuk mengunjungi dokter gigi terbaik anda!