Kosmetika dan Estetika Kedokteran Gigi

Dokter Gigi kosmetik dan estetik belakang hari semakin populer. Dan banyak dokter gigi menyebut diri mereka sebagai “dokter gigi kosmetik” terlepas dari pendidikan mereka yang spesifik, khusus, pelatihan, dan pengalaman di bidang ini. Namun keadaan ini telah dianggap tidak etis dengan tujuan utama dari pemasaran untuk pasien. Padahal dari sisi etika dokter sudah jelas untuk tidak melakukan pemasaran dan promosi berkenaan dengan prakteknya.

Kosmetik kedokteran gigi umumnya digunakan untuk mengacu pada setiap perawatan gigi yang meningkatkan penampilan (meskipun belum tentu fungsi) gigi seseorang, gusi dan / atau gigitan. Jika mengacu ke Asosiasi Dokter Gigi Amerika (PDGI-nya Dokter Gigi Amerika), mereka tidak mengakui kedokteran gigi kosmetik sebagai daerah khusus formal kedokteran gigi. Namun, masih ada dokter gigi yang mempromosikan diri sebagai dokter gigi kosmetik.

Yang terpenting adalah jaga senyum anda dan penampilan gigi anda. Karena senyum adalah salah satu aset yang paling penting! Senyum dan Gigi Anda adalah jendela di mana Anda diukur. Mengetahui Anda memiliki senyum yang lebar, deretan gigi yang rapi dan putih dapat memberikan dorongan ekstra kepercayaan untuk membawa Anda di manapun anda berada.

Memutuskan untuk memiliki kedokteran gigi kosmetik merupakan pilihan penting dan sangat pribadi. Ketika saat itu datang dan Anda sedang mencari dokter gigi kosmetik terbaik di jangan segan untuk mengunjungi dokter gigi terbaik anda!

Iklan

Tips Menggunakan Dental Floss

Dokter gigi mengatakan flossing sama pentingnya dengan menyikat. Berikut adalah cara untuk melakukannya dengan benar.

Ambil kira-kira 20cm benang. Pegang ujungnya, sisakan kira-kira 5cm-10cm ditengah sebagai area kerja. Memegangnya gunakan ibu jari dan telunjuk. Naik turunkan dengan lembut disela-sela gigi anda. Dengan lembut, gerakkan juga benang mengikuti lengkung gigi, pastikan sampai ke batas antara gusi dan gigi. Jangan tarlalu kasar menggunakan dental floss atau gusi anda akan luka. Gunakan benang bersih untuk setiap pembersihan gigi.

Berhentilah menjadi Dokter Gigi

Beberapa bulan belakangan terjadi perdebatan seru tentang layanan primer Dokter Gigi. Tentang konsep layanan paripurna bidang kesehatan Gigi dan Mulut. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Mengapa Dokter Gigi lebih identik dengan masalah-masalah kesehatan gigi saja?”. Maksud saya apakah sekedar ngurusin urusan kavitas, gigi goyang, sakit gigi, karang gigi hingga cabut-mencabut. Bukankah kita juga dituntut untuk melaksanakan konsep layanan kesehatan secara utuh?. Bukankah kita dulu sekolah dibidang kesehatan Gigi dan Mulut?. Hingga rumah sakit tempat kita mengasah skill dengan bangganya manamakan diri sebagai Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM). Yang berarti bidang kita adalah pelayanan kesehatan Gigi dan Mulut secara menyeluruh.

Ok.. kembali kekenyataan tentang profesi Dokter Gigi, saat ditanya dalam suatu seminar Kedokteran Gigi, “Apakah anda Dokter atau Dokter Gigi?” Saya yakin maka semua akan menjawab Dokter Gigi. Atau malah mungkin bingung dan menjawab, “Kita ya Dokter, tapi Dokter Gigi”. Ini terjadi karena sebagian besar masyarakata (atau kita sendiri) menempatkan profesi Dokter Gigi hanya untuk memperbaiki GIGI. Dan profesi Kedokteran menganggap para Dokter Gigi adalah sekelompok orang yang gagal masuk ke Fakultas Kedoktera (Umum). Namun kenyataannya, dalam pelayanan Primer (PUSKESMAS) para Dokter Gigi juga tidak ditempatkan di garis depan program pencegahan penyakit secara umum. Padahal semua tahu 99% yang masuk ke tubuh kita melalui rongga mulut. Dan manifestasi keadaan sistemik seringkali ditemukan di rongga mulut.

Dari sisi pasien, saya juga bertanya, kira-kira terjadinya kunjungan kembali antara dokter umum dan dokter gigi seringan mana? Kalao ke dokter umum, pasien sekali datang karena flu batuk, kasih obat, sembuh. Tapi kalo ke Dokter Gigi Rata-rata pasien 4 sampai 6 kali lebih sering daripada dokter umum. Atau setidaknya 6 bulan sekali untuk kunjungan periodik. Dokter gigi tidak berbeda dari seorang ahli jantung yang mengkhususkan diri dalam otot jantung , dokter gigi mengkhususkan diri dalam rongga mulut (bukan gigi saja). Dan perlu kita ketahui, pasien gigi rata-rata tidak benar-benar tahu apakah kita seorang dokter gigi yang cakap atau tidak. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka mempercayai kita dan asisten asisten. Dan memiliki pengalaman yang baik tentang bidang kedokteran gigi. Dan perlu juga diketahui, perkembangan praktek dokter gigi dan jumlah kunjungan pasien sebanding dengan kepuasan pasien dan pengalaman positif akan layanan kita.

Oleh karena rongga mulut dan kondisi sistemik pasien berpengaruh terhadap Dokter Gigi, Pasien dan Tindakan kedokteran gigi, coba kita tanya pada diri kita masing-masing tentang 10 Pertanyaan konsep menyeluruh layanan kesehatan gigi dan mulut berikut.

1. Apakah kita memeriksa tekanan darah setiap pasien ?
2. Apakah kita memeriksa keadaan rongga mulut secara menyeluruh ?
3. Apakah kita melihat ada tidaknya kanker rongga mulut ?
4. Apakah kita benar-benar memeriksa socket dengan probing ?
5. Apakah kita melihat adanya bakteri mulut yang berlebihan ?
6. Apakah kita bertanya pada pasien tentang riwayat diabetes untuk mengetahui kadar gula darah dan penyakit sistemik lainnya ?
7. Apakah kita mengkomunikasikan hubungan antara kesehatan mulut dan sistemik ?
8. Apakah kita berkomunikasi dengan dokter layanan primer ada kontra indikasi perawatan ?
9. Apakah kita tahu siapa dokter yang merawat pasien sebelumnya (dokter / dokter gigi) ?
10. Apakah kita menjelaskan kepada pasien bahwa kita nggak cuman ngurusi gigi saja, tapi rongga mulut secara keseluruhan ?

Sepuluh pertanyaan diatas hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit saja kok. Jika ada kelainan yang ditemukan , komunikasikan, rekam secara tertulis, lakukan rujukan dengan fasilitas perawatan primer lainnya. Siapa tahu, kita mungkin bisa menyelamatkan nyawa seseorang, bahkan menghindarkan kita dari kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya. Jika hal-hal diatas luput dari perhatian kita, sebaiknya berfikirlah kembali bertanyalah kembali Apakah saya benar-benar Dokter Gigi? Kalao belum, berhentilah menjadi dokter gigi, karena tidak beda dengan “ahli gigi jalanan”. Atau marilah mulai menjadi Dokter Gigi (melampaui Gigi dan Mulut) sebenarnya.

Salam

drg. F. BASORO

Perbincangan dua sahabat tentang gelas kopi

Sesorean Ryan dan Heri berbincang hebat tentang suasana kantor yang semakin sibuk. Apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Tugas jaga untuk posko lebaran telah dibuat. Untungnya untuk tahun ini jadwal jaga Ryan tidak bertepatan dengan hari H lebaran. Kopi pahit yang mereka nikmati bersama rupanya sisa separuh.

“Heri, tahukah kamu kalau gelas ini aku isi dengan kelereng, batu-batu kecil, pasir dan adonan kopi itu ternyata mewakili kehidupan kita.” ujar Ryan kepada sahabatnya itu.

“Ah kamu Ryan, ada-ada saja mengumpamakan kehidupan kita seperti hal-hal yang gak penting” Heri menyahutinya dengan sedikit senyan sinis.

“Sudahlah, kegagalan hidup kamu jangan juga membuat otak kamu gagal loading” tambah Heri sok pintar.

“Bukan begitu Her. Aku melihat ada filosofi menarik yang bisa diambil pelajaran” Ryan menyandarkan tubuhnya dengan memasang mimik serius.

“OK… sekarang akan aku jelaskan padamu.”

“Coba pahami dan bayangkan gelas kosong adalah diri kita. Lalu kita isi dengan kelereng, maka masih ada ruang untuk kita isi dengan batu-batu kecil. Kemudian gelas itu kita tuangkan pasir untu mengisi ruang antara kelereng dan batu-batu kecil. Dan terakhir kita isi lagi dengan kopi yang sudah kita buat sore ini. Maka gelas kita akan penuh. Bukan begitu?” tanya Ryan diakhir kalimatnya.

“Dan kamu anggap itu sepele? Tidak Her, itu bukan hal yang sepele. Itu mengandung makna yang dalam bagi kita. Dan itu mewakili kehidupan kita.”

Karena melihat Heri yang seakan-akan belum menangkap makna pembicaraannya, Ryan kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Baiklah Her.” sambung Ryan.
“Aku ibaratkan kelereng-kelereng itu adalah hal-hal yang penting. Seperti Tuhan, keluarga, istri, anak-anak dan kesehatan. Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, kelereng-kelereng itu, maka hidup kita masih penuh makna.”

“Batu-batu kecil itu adalah hal-hal lain seperti pekerjaan, uang, rumah, mobil. Sedangkan pasir adalah hal-hal sepele.”

“Jika kamu pertama kali memasukkan pasir, maka tidak akan tersisa ruang untuk batu-batu kecil dan kelereng-kelereng itu. Hal yang sama juga akan terjadi dalam hidupmu.”

“Kamu akan menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, dan tidak akan punya ruang lagi untuk hal-hal yang lebih penting seperti Tuhanmu, keluarga, istri dan anak-anak.” semakin bersemangat Ryan menjelaskannya. Sedangkan Heri berusaha mencerna walapun Ryan tahu tak semuanya bisa dia mengerti.

“Jadi beri perhatian untuk hal-hal yang penting untuk kebahagiaanmu. Beribadahlah pada Tuhanmu. Rawatlah keluargamu. Bermain, berbincanglah dengan anak-anakmu.”
“Luangkan waktu untuk cek-up kesehatanmu. Ajak istri untuk makan malam, jalan-jalan, berliburlah.”
“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada kelereng-kelereng. Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasirnya.”

Lama mereka terdiam. Sebelum Heri berdiri dan bertanya.

“Kalau kopi mewakili apa Ryan?”

Sambil tersenyum, Ryan menjawab dengan ringan.

“Itu untuk menunjukan, sekalipun hidup kita sudah penuh dengan hal-hal penting dan juga hal-hal sepele, tetap selalu tersedia tempat untuk segelas kopi bersama sahabat.”

Sore semakin remang. Dua sahabat itu juga menyudahi perbincangannya hari ini. Ada senyum mengembang dan lambaian tangan saat mereka berpisah di beranda depan rumah sederhana itu.

(Hambawang, 06072013)

Dokter “Tetap” Profesi Terhormat

Jadi dokter harus kaya. Sepenggal kata itu selalu jadi mantra bagi rekan sejawat dokter dari manapun diluluskan. Bukan apa-apa, stigma masyarakat yang selalu menganalogikan bahwa dokter kaya seringkali semakin menjadikan dokter semakin terjepit. Antar pilihan idelais dengan pilihan duitis. Ok, akan saya urutkan strata dokter berdasarkan urutan “kaya” dan karena apa dokter itu bisa “kaya”.

1. Kaya turunan
Pada urutan pertama ini rata-rata kaya, karena orang tuanya berasal dari keluarga kaya. Sejak kuliah memang sudah disetting dalam mindset mereka kalo dokter harus kaya. Tampilannya fresh. Naik mobil kemana-mana. Kalo belanja sering ngajak temen-temennya. Dan ujung-ujungnya ditrakter deh. 😀

2. Karena nikah sama keluarga kaya
Saya dokter. Dan saya harus punya suami/istri dari kalangan berada. Mungkin ini yang ada dalam mindset dokter golongan ini. Dengan gelar dokter, sebenarnya tidak susah bagi kita untuk mendapatkan mertua kaya plus suami/istri yang cakep. Kalopun gak bisa cakep… yaa…. minimal kaya. Ini bisa terjadi pada rekan sejawat yang menjalankan tugas sebagai Dokter di daerah pinggiran yang saat ini semakin banyak saja OKB yang menginginkan menantu dari kalangan “terhormat”. Ya dokter itu.

3. Punya bisnis (dokterpreuner)
Dokter apa enterpreuner ya yang bener? Pertanyaan yang ambigu yang seringkali ditanyakan ke TS saat bertemu dengan rekan sejawat dokter atapun rekan bisnis. Pada posisi ini, kita punya kebebasan finansial, kebebasan waktu dan kebebasan untuk “mengabdi” dengan sebenar-benarnya. Kalau meminjam istilah kerennya dokter yang mengabdi secara “kaffah”. Dengan punya kebebasan finasial dan kebebasan waktu, tidak ada lagi tuntutan untuk mendapatkan materi berlebih dari profesi dokter. Malah pada beberapa kasus saat pasien dirasa tidak mampu membayar bisa saja dianalogikan sebagai “sedekah”. Pun tidak adanya kewajiban untuk balik modal dalam meraih gelar dokter. Hingga sangat dimungkinkan tidak akan terjadi yang namanya demo-demoan sepeti kemarin. Karena apa? ya… duit dah banyak… jadi dokter juga gak harus diagnosa 3-menitan. Tidak juga dikejar setoran… hehehehe…. 😛

4. Dokter pekerja keras
Nah di strata ini yang dinamakan benar-benar dokter. Tanpa mengeluh, rekan sejawat pada strata ini jam kerjanya luar biasa tinggi. Jam terbangnya sudah ratusan bahkan ribuan pasien. Jam 5-6 pagi sudah mandi dan rapih. Siap dengan baju putihnya. Terusssss…. pegang pasien sampe malem. Iya sampe malem. Malahan pada beberapa rekan sejawat yang sudah spesialis bisa-bisa dini hari baru selesai sebagai dokter. Pulang kerumah jam 2 dini hari. Saat istri dan anak-anak sudah tidur. Dan bangun lagi subuhnya. Belum lagi harus muter dari satu rumah sakit-kerumah sakit yang lain. Dari klinik ke klinik. Belum lagi yang masih harus buka “warung” sendiri. Wajar kan kalo pada akhirnya secara materi rekan sejawat pada posisi ini melimpah secara materi?

5.Dokter sing gak sugih
Nah ini nih strata terakhir dari dokter berdasarkan tajir apa tidak tajir seorang dokter itu. Dan golongan ini sangat banyak di Indonesia. Dari yang menyerah jadi istri lurah sampai jadi teller di bank atau agen asuransi. Pada bagian lain, mereka mengeluh dengan profesinya. Uang duduk yang menurut mereka kecil. Jasa medik yang hanya 2 ribuan. Sampai membandingkan dengan gaji buruh dan sopir. Ujung-ujungnya minta kenaikan gaji dan kesejahteraan. Hai bung… hidup sebagai dokter itu pilihan. Nikmatilah pilihan itu. Yang bertanggung jawab sama hidup kita kan bukan pemerintah. Kita sendiri yang harus menaikkan strata hidup sebagai dokter. Masih banyak pilihan sebagai dokter dengan strata yang lebih baik.

Kira-kira seperti inilah gambaran dokter dari sudut panadang TS. Dan menurut TS profesi dokter TETAP sebagai PROFESI TERHORMAT. Komentar dan diskusi sangat diperkenankan. Tulisan ini juga dapat di baca di Grup Facebook Alumni FKG Unej.